Beranda blog

Diduga Pengedar Sabu, Warga Pancoran Dicokok Polisi

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

BONDOWOSO, Lagi-lagi Jajaran satuan reserse narkoba (Sat Reskoba) Polres Bondowoso mencokok Zainullah Bin Senol (30). Pasalnya ia diduga sebagai pengedar serbuk kristal atau sabu.

Zainullah warga dusun Widoro, Desa Pancoran, Bondowoso, Jawa Timur ini bertekuk lutut saat dicokok petugas, betapa tidak ia ketahuan menyembunyikan sabu didalam saku depan celananya.

Iptu Hadi Sukisman,Kasat Resnarkoba Polres Bondowoso mengatakan, Senol diamankan di jalan dusun Widoro, Desa Pancoran, Kecamatan kota Bondowoso,Rabu (3/7/2019) sekira pukul 23.00 WIB.

Penangkapan tersebut berawal dari informasi masyarakat yang menyampaikann adanya pelaku peredaran narkoba jenis sabu. Dengan ciri-ciri sesuai dengan tampilan fisik pelaku.

FB_IMG_1773966750014

Setelah dilakukan penyelidikan dan dilakukan penggeledahan,ditemukan pada saku celana depan bungkusan plastik kecil yang berisi sabu.

“Dari Zainullah berhasil diamankan beberapa barang bukti, yaitu satu paket sabu yang dibungkus klip plastik disolasi. Serta uang tunai Rp 350 ribu dan satu HP,” kata Iptu Hadi, Kamis (4/7/2019).

Diterangkan bahwa berdasarkan barang bukti yang bersangkutan diduga melanggar Pasal 114 ayat (1) Subs Pasal 112 ayat (1) UU.RI No. 35 Tahun 2009, Tentang Narkotika.

“Ancaman hukuman minimal 6 tahun, maksimal 20 tahun,” katanya.

Sementara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, serta penyidikan Zainullah diamankan di Mako Polres Bondowoso, setelah nanti berkas lengkap atau P21 akan segera diserahkan ke Kejaksaan.

images (15)

Diterjang Hujan Lebat, Dapur Rumah Warga Besuki Situbondo Ambruk

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Situbondo – Hujan lebat yang disertai hembusan angin kencang di Kecamatan Besuki telah memporak porandakan dapur rumah warga yang bernama Samawi (55). Rumah Sanawi yang berlokasi di Rt 03, Rw 01, Dusun Mandar, Desa Belimbing, Besuki, Situbondo, Jawa Timur tepat pukul 03.00 dini hari, Jumat, (8/3).


Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun media online ini di lapangan menyebutkan bahwa, panjang rumah 5 meter dan lebar 6 meter yang berpenghuni 5 jiwa tersebut hancur pada bagian dapurnya.
“Untung saja kelima penghuni rumah itu selamat meski dalam keadaan tertidur lelap,” ujar Sonata, anggota tim Paskalis BPBD Situbondo, Jumat, (8/3).

FB_IMG_1773966750014


Sonata menambahkan bahwa kerugian yang dialami korban yakni diperkirakan sekitar Rp 15 juta. (ans)

images (15)

DPRD Nilai Perlu Stressing Kinerja Riset dan Inovasi Daerah

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bondowoso menilai penting adanya penekanan (stressing) terhadap kinerja riset dan inovasi daerah dalam perencanaan pembangunan ke depan.

Hal tersebut disampaikan sebagai bagian dari evaluasi terhadap kinerja Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) yang dinilai telah menjalankan fungsi perencanaan, pengendalian, dan evaluasi pembangunan secara berkelanjutan.

DPRD menyampaikan apresiasi atas upaya pemerintah daerah dalam menjaga konsistensi pembangunan dengan mengedepankan prinsip peningkatan kualitas program.

Kinerja Bapperida dinilai cukup baik dalam mengawal berbagai tahapan pembangunan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, serta mampu merespons isu-isu strategis yang berkembang di daerah.

Namun demikian, DPRD menekankan bahwa ke depan diperlukan penguatan yang lebih serius pada sektor riset dan inovasi.

Penekanan ini dinilai penting mengingat kedua aspek tersebut kini telah menjadi bagian dari nomenklatur kelembagaan yang baru, sehingga membutuhkan perhatian khusus agar mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah.

“Perlu adanya stressing pada kinerja riset dan inovasi daerah, terutama pada tahap perencanaan berikutnya. Hal ini penting agar selaras dengan arah kebijakan pembangunan dan mampu mendukung program unggulan daerah,” demikian salah satu poin yang disampaikan dalam evaluasi tersebut melalui juru bicara H.Tohari.

Lebih lanjut, DPRD juga mengaitkan pentingnya penguatan riset dan inovasi dengan arah pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.

FB_IMG_1773966750014

Dalam dokumen tersebut, Bondowoso menargetkan diri sebagai pusat tridharma, yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurut DPRD, pencapaian visi tersebut tidak akan optimal tanpa dukungan riset yang kuat dan inovasi yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, sinergi antara perangkat daerah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya perlu terus ditingkatkan guna mendorong lahirnya berbagai terobosan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Selain itu, DPRD juga memberikan apresiasi terhadap capaian kinerja makro pembangunan Kabupaten Bondowoso pada tahun 2025.

Pengendalian dan pengawalan terhadap isu-isu krusial dinilai berjalan dengan baik, sehingga mampu menjaga stabilitas pembangunan di tengah berbagai tantangan.

“Terhadap capaian kinerja makro pembangunan tahun 2025, kami menyampaikan terima kasih atas pengendalian dan pengawalan isu-isu krusial dalam pembangunan Bondowoso,” lanjut pernyataan tersebut.

DPRD berharap, berbagai capaian positif yang telah diraih dapat terus ditingkatkan pada tahun-tahun berikutnya. Dengan penguatan pada sektor riset dan inovasi, pembangunan di Kabupaten Bondowoso diharapkan tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga mampu memberikan dampak yang lebih luas dan berdaya saing tinggi.

Sebagai penutup, DPRD menyampaikan harapan agar seluruh proses pembangunan yang dijalankan dapat membawa manfaat yang lebih besar bagi masyarakat serta mewujudkan Bondowoso yang lebih maju dan “berkah” di masa mendatang.

images (15)

Ironis , DPRD Bondowoso Nilai Kegiatan Program Copy Paste

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso – DPRD Soroti Kinerja Perangkat Daerah, Minta Program Lebih Berdampak dan Inovatif

Bondowoso — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menyoroti kinerja sejumlah Perangkat Daerah (PD) dalam penyusunan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) yang dinilai belum sepenuhnya berorientasi pada dampak dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam evaluasinya, DPRD menemukan bahwa sebagian PD masih menyajikan laporan sebatas pada capaian program, kegiatan, serta tingkat penyerapan anggaran. Namun, dampak (impact) dan manfaat (benefit) dari pelaksanaan program tersebut dinilai belum dirasakan secara optimal, bahkan hingga akhir tahun anggaran.

“Pelaksanaan program harus dapat diukur dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, tidak sekadar memenuhi target administrasi,” demikian salah satu poin rekomendasi DPRD yang dibacakan Tohari

Ironisnya , DPRD juga menyoroti kecenderungan program kegiatan yang dari tahun ke tahun relatif sama dan terkesan “copy paste”. Kondisi ini dinilai menghambat inovasi serta kurang selaras dengan visi dan misi kepala daerah.

DPRD pun merekomendasikan agar setiap OPD mampu menghadirkan inovasi program yang relevan dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

Dari sisi implementasi, DPRD menilai masih terdapat ketidaksesuaian antara pelaksanaan program dengan visi, misi, serta program unggulan Bupati. Oleh karena itu, seluruh PD diminta memahami secara teknis dan terperinci arah kebijakan pembangunan daerah agar pelaksanaan program lebih terarah.

Dalam hal pengelolaan aset, DPRD menilai masih jauh dari optimal dan belum berorientasi pada nilai guna. Lemahnya pemanfaatan aset serta belum tertibnya penghapusan aset yang tidak lagi digunakan menjadi perhatian serius.

DPRD merekomendasikan agar pemerintah daerah fokus pada optimalisasi pemanfaatan aset serta mempercepat proses penghapusan aset yang sudah tidak dibutuhkan.

FB_IMG_1773966750014

Di sektor ekonomi kerakyatan, DPRD juga menyoroti kondisi pedagang kecil dan pengusaha mikro, khususnya di pasar tradisional dan toko kelontong, yang semakin tertekan akibat persaingan dengan pasar daring dan toko modern berjaringan. Pemerintah daerah diminta hadir dengan kebijakan yang bijak dan solusi konkret agar pelaku usaha kecil tetap bertahan.

Terkait pengelolaan anggaran, DPRD menemukan masih adanya anggaran yang tidak terealisasi sesuai kebutuhan dan fungsi penganggaran. Untuk itu, pemerintah diminta segera melakukan evaluasi serta identifikasi kebijakan, baik dari pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten, melalui penguatan sinergi dan kolaborasi lintas sektor.

DPRD juga mengingatkan agar pembahasan dan penetapan anggaran perubahan tidak dilakukan pada waktu yang berpotensi menimbulkan persoalan teknis. Selain itu, transparansi kepada publik dan legislatif terkait kondisi riil anggaran, sumber pendanaan, serta rencana realisasi dinilai sangat penting.

Dalam catatan anggaran, rencana surplus-defisit APBD 2025 yang semula sebesar Rp140 miliar, pada perkembangan terakhir menjadi Rp93 miliar. DPRD meminta pemerintah lebih cermat dan teliti dalam perencanaan anggaran, termasuk memastikan apakah perencanaan didasarkan pada kebutuhan riil atau sekadar usulan.

Lebih lanjut, DPRD menekankan pentingnya perhitungan APBD secara realistis berbasis data yang tervalidasi secara berkala. Beberapa prioritas yang disoroti antara lain penyesuaian belanja pegawai sesuai ketentuan Undang-Undang Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah (UU HKPD) sebesar 30 persen pada 2027, serta alokasi belanja infrastruktur sebesar 40 persen mengingat kondisi infrastruktur yang masih membutuhkan perhatian.

DPRD juga meminta Bupati bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perencanaan dan realisasi anggaran secara detail di semua sektor.

Penetapan kebijakan Ex Baseline (Ex BAU) dan Accres dalam APBD 2026 juga diharapkan menjadi bagian dari strategi pengelolaan anggaran di tengah keterbatasan fiskal, dengan tetap mengedepankan skala prioritas.

Melalui berbagai rekomendasi tersebut, DPRD berharap tata kelola pemerintahan dan penganggaran di Bondowoso dapat semakin efektif, transparan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

images (15)

Pendapatan Retribusi Wisata Bondowoso Belum Capai Target, DPRD Dorong Penguatan SDM dan Digitalisasi

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso — Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi pelayanan tempat rekreasi, pariwisata, dan olahraga di Kabupaten Bondowoso pada tahun 2025 tercatat masih di bawah target. Capaian tersebut berada di angka 65,45 persen.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bondowoso menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius, terutama di tengah ruang fiskal daerah yang semakin terbatas. Berbagai langkah strategis dinilai perlu segera dilakukan untuk mengoptimalkan potensi pendapatan daerah dari sektor pariwisata.

Beberapa upaya yang direkomendasikan antara lain penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), peningkatan kualitas sarana dan prasarana objek wisata, diversifikasi produk paket wisata, serta pengembangan layanan berbasis digital.

Secara umum, DPRD menilai kinerja Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) pada tahun 2025 telah berjalan cukup baik. Namun, untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan capaian ke depan, diperlukan sejumlah penguatan di berbagai aspek.

Pertama, pengembangan dan perluasan rasio wirausaha muda dinilai penting untuk mendorong keterlibatan angkatan kerja dalam sektor produktif, khususnya di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.

Kedua, peningkatan daya saing di bidang olahraga perlu didorong melalui kebijakan yang tepat serta pengawasan yang berkelanjutan dalam proses pembinaan atlet.

FB_IMG_1773966750014

Ketiga, DPRD mendorong pengembangan potensi budaya megalitikum yang lebih berorientasi pada aspek edukasi dan riset, sehingga tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga sumber pengetahuan.

Keempat, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, perlu dilakukan melalui penguatan destinasi unggulan yang dikemas dalam label wisata “UGG Ijen”. Upaya ini diharapkan didukung dengan penyusunan paket wisata yang unik serta strategi pemasaran berbasis digital.

Kelima, pengembangan pariwisata berbasis aglomerasi juga dinilai penting, dengan mengedepankan kolaborasi lintas daerah dan integrasi potensi destinasi wisata.

Melalui sejumlah rekomendasi tersebut, DPRD berharap sektor pariwisata Bondowoso dapat menjadi salah satu pilar utama dalam meningkatkan PAD sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Hal tersebut merupakan salah satu dari 57 rekomendasi DPRD Bondowoso dalam Rapat Paripurna Penyerahan LKPJ ke pada Bupati Bondowoso tahun 2026 Anggaran tahun 2025.

images (15)

DPRD Bondowoso Soroti Kinerja dan Anggaran Infrastruktur, Ini Rekomendasi untuk Dinas BSBK

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso— Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bondowoso memberikan sejumlah rekomendasi kepada Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, dan Bina Konstruksi (BSBK) terkait pelaksanaan program infrastruktur dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Tahun Anggaran 2025.

DPRD menilai implementasi Program Rantas sebagai bagian dari misi utama RPJMD 2025–2029 telah berjalan cukup baik. Capaian tersebut diraih meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, terutama setelah Dana Alokasi Umum (DAU) Infrastruktur dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Irigasi ditarik oleh pemerintah pusat.

“Selain itu, pelaksanaan program juga terkendala waktu yang sempit akibat lamanya proses penyesuaian terhadap perubahan regulasi, baik dalam tata kelola keuangan daerah, pengadaan barang dan jasa, maupun spesifikasi teknis pekerjaan.

Namun demikian, DPRD menekankan masih terdapat sejumlah catatan penting yang perlu segera ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah sebagai bentuk komitmen terhadap pembangunan infrastruktur,” seperti disampaikan Tohari sebagai juru bicara atas 57 rekomendasi DPRD saat Paripurna ,Rabu,22/04/2026.

Salah satu poin utama adalah perlunya keseriusan dalam penyediaan dukungan anggaran. DPRD menilai alokasi anggaran infrastruktur tahun 2025 sebesar Rp76 miliar belum mencerminkan kebutuhan riil di lapangan.

“Anggaran tersebut belum berimbang dengan tingkat kerusakan jalan, jembatan, drainase, dan saluran irigasi yang ada,”tegasnya.

FB_IMG_1773966750014

Selain itu, alokasi anggaran dinilai belum selaras dengan persentase belanja wajib (mandatory spending) serta belum sepenuhnya relevan dengan penandaan (tagging) urusan pemerintahan konkuren.

Dalam kondisi fiskal daerah yang terbatas, DPRD juga mendorong penyusunan peta jalan (roadmap) penuntasan permasalahan infrastruktur secara komprehensif. Peta jalan tersebut diharapkan mencakup strategi pendanaan yang jelas melalui berbagai skema, seperti pemeliharaan rutin, rehabilitasi, hingga rekonstruksi.

Di sisi lain, DPRD melihat Dinas BSBK memiliki potensi signifikan dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya melalui pemanfaatan aset daerah. Potensi ini dinilai belum dioptimalkan secara maksimal.

Untuk itu, DPRD merekomendasikan peningkatan kesiapan sumber daya manusia serta penguatan instrumen pendukung guna mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) serta regulasi teknis lainnya.

Melalui rekomendasi tersebut, DPRD berharap kinerja Dinas BSBK ke depan semakin efektif dalam menjawab tantangan pembangunan infrastruktur, sekaligus mampu berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan daerah.

images (15)

DPRD Bondowoso Soroti Efisiensi Anggaran dan Kinerja dalam 57 Rekomendasi LKPJ Bupati 2025

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso— Ketua DPRD Bondowoso, H. Ahmad Dhafir, menegaskan bahwa dari 57 rekomendasi yang disampaikan DPRD kepada Bupati terkait Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025, fokus utama bukan pada aspek anggaran, melainkan perbaikan kinerja pemerintah daerah.

Menurut Dhafir, LKPJ merupakan laporan pertanggungjawaban kepala daerah atas pelaksanaan program selama satu tahun anggaran.

Oleh karena itu, rekomendasi DPRD lebih diarahkan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas pelayanan publik.

“Yang paling krusial sebenarnya banyak, tetapi intinya adalah perbaikan kinerja. LKPJ ini bukan membahas soal anggaran, karena perhitungan anggaran akan dilakukan setelah DPRD dan Bupati menerima Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari BPK,” ujarnya,Rabu ,22/04/2026 usai rapat paripurna di Gedung DPRD setempat.

Ia menjelaskan, pembahasan anggaran akan dilakukan sesuai ketentuan perundang-undangan setelah hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diterima.

Sementara itu, rekomendasi yang diberikan saat ini difokuskan pada langkah strategis untuk meningkatkan kinerja pemerintahan, termasuk dalam menghadapi kondisi efisiensi anggaran.

DPRD juga menyoroti pentingnya perencanaan APBD 2026 serta pengelolaan anggaran pada tahun berjalan dan masa mendatang.

Hal ini mengacu pada implementasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk pengaturan belanja pegawai yang dibatasi maksimal 30 persen dari total APBD.

Dhafir mengungkapkan, peningkatan persentase belanja pegawai di Bondowoso terjadi bukan semata karena penambahan jumlah pegawai, melainkan akibat penurunan total APBD.

FB_IMG_1773966750014

Ia menyebut, sebelumnya APBD Bondowoso mencapai sekitar Rp2,254 triliun, namun kini turun menjadi sekitar Rp1,8 triliun akibat berkurangnya dana transfer dari pemerintah pusat.

“Dengan jumlah pegawai dan hak yang tetap harus dibayarkan, otomatis persentase belanja pegawai meningkat. Sementara belanja modal atau pembangunan justru menurun,” jelasnya.

Untuk itu, DPRD merekomendasikan evaluasi terhadap belanja pegawai, khususnya pada komponen tunjangan kinerja. Penyesuaian diharapkan dilakukan berdasarkan beban kerja masing-masing aparatur sipil negara (ASN), tanpa mengurangi hak-hak dasar yang wajib diterima.

“Bukan pemotongan, tetapi penyesuaian sesuai kinerja. Ada ASN yang beban kerjanya tinggi, ada juga yang relatif rendah. Ini perlu evaluasi agar lebih adil dan efisien,” tegasnya.

Selain itu, DPRD juga menyoroti pengelolaan tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Dhafir menyebut, pemerintah daerah harus tetap memperhatikan kesejahteraan mereka, mengingat kontribusi dan pengabdian yang telah diberikan selama bertahun-tahun.

Ia mencontohkan, pada tahun 2023 terdapat lebih dari 2.000 PPPK yang diangkat, dengan kebutuhan anggaran yang tidak sedikit.

Kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk melakukan perencanaan matang agar tidak membebani keuangan daerah.

Meski demikian, DPRD mengapresiasi kebijakan pemerintah daerah yang tidak melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap tenaga non-ASN, selama mereka masih dibutuhkan untuk mendukung pelayanan masyarakat.

“Selama itu untuk kepentingan pelayanan publik dan dapat dipertanggungjawabkan oleh OPD terkait, tentu harus dipertahankan,” pungkasnya.

images (15)

DPRD Bondowoso Serahkan 57 Rekomendasi atas LKPJ Bupati Tahun 2026 ,Ini Kata Bupati

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso, 22 April 2026 — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bondowoso menyerahkan 57 rekomendasi atas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Bondowoso Tahun 2026 terhadap penjabaran APBD Tahun Anggaran 2025. Penyerahan tersebut berlangsung dalam rapat paripurna di Graha Paripurna DPRD Bondowoso, Rabu (22/4/2026).

Bupati Bondowoso, KH Abdul Hamid Wahid, dalam sambutannya menyampaikan bahwa rekomendasi DPRD merupakan bagian penting dari fungsi pengawasan serta menjadi masukan strategis untuk meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Bondowoso.

“Rekomendasi ini menjadi
bahan evaluasi agar program dan kegiatan pemerintah daerah benar-benar tepat sasaran, efektif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata,” ujarnya.

Ia menambahkan, rekomendasi tersebut juga akan dijadikan acuan dalam penyusunan anggaran, baik pada perubahan APBD tahun berjalan maupun dalam perencanaan APBD tahun berikutnya.

Dengan demikian, setiap kebijakan anggaran dapat lebih terarah, efisien, dan memberikan dampak maksimal bagi masyarakat.

Lebih lanjut, Bupati menyatakan bahwa pihaknya akan memanfaatkan rekomendasi DPRD sebagai bahan evaluasi dalam penyusunan peraturan daerah, peraturan kepala daerah, serta kebijakan strategis lainnya, khususnya dalam rangka mencapai visi dan misi pembangunan daerah.

FB_IMG_1773966750014

“Hal ini penting agar seluruh kebijakan yang diambil tetap berada dalam koridor pembangunan yang terukur dan berkelanjutan,” katanya.

Bupati juga mengakui bahwa dalam pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025 masih terdapat sejumlah kekurangan yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus meningkatkan kinerja, khususnya dalam pengelolaan keuangan daerah.

“Kami akan mendorong pelaksanaan APBD yang lebih transparan, akuntabel, dan profesional, serta berorientasi pada hasil yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa upaya tersebut membutuhkan dukungan dan kerja sama dari seluruh pihak, termasuk DPRD, agar tercipta sinergi yang kuat antara legislatif dan eksekutif.

Bupati berharap hubungan yang harmonis antara Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan DPRD dapat terus terjalin demi mewujudkan pemerintahan yang lebih baik serta pembangunan daerah yang berkelanjutan.

images (15)

KPU Bondowoso Jalin Sinergi dengan Parpol, Kunjungi Kantor DPC PDIP

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bondowoso terus memperkuat koordinasi dengan partai politik, baik yang memiliki kursi di parlemen maupun nonparlemen.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan ke kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Bondowoso, Selasa (21/4/2026).

Kunjungan tersebut dipimpin langsung Ketua KPU Bondowoso, Sudaedi, dan disambut jajaran pengurus DPC PDI Perjuangan Bondowoso.

Sudaedi menjelaskan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Surat KPU Nomor 40/PL.01.1-SD/3511/2026 tertanggal 26 Januari 2026 tentang Koordinasi dan Sosialisasi Pemutakhiran Data Partai Politik Berkelanjutan.

Selain itu, juga merujuk pada Surat KPU Nomor 248/PL.01-SD/06/2026 tertanggal 8 Maret 2026 terkait rencana kegiatan Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu.

“Dalam rangka itu, KPU Kabupaten Bondowoso melaksanakan kunjungan atau anjangsana kepada partai politik peserta Pemilu 2024 di Bondowoso. Ini untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan seluruh parpol,” ujar Sudaedi.

FB_IMG_1773966750014

Ia menambahkan, KPU juga telah menyusun jadwal kunjungan ke sejumlah partai politik. Untuk memudahkan komunikasi, KPU menunjuk petugas penghubung, yakni Mulyadi.

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Sinung Sudrajad, mengapresiasi langkah KPU yang dinilainya proaktif dalam membangun sinergi dengan partai politik.

“Kami sangat mengapresiasi langkah KPU dalam menjalin koordinasi dan komunikasi dengan partai politik. Ini penting untuk membangun sinergi dalam menyukseskan agenda-agenda politik ke depan,” kata Sinung.

Menurutnya, komunikasi yang intensif antara penyelenggara pemilu dan partai politik dapat mendorong peningkatan partisipasi pemilih sekaligus menciptakan iklim demokrasi yang sehat di Kabupaten Bondowoso.

“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara periodik agar hubungan antara KPU dan partai politik semakin solid, serta mampu menciptakan iklim demokrasi yang baik,” pungkasnya.

images (15)

Ini Kata Abu Sofyan Terkait Kajian Dapil untuk Pemilu Mendatang

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso – Divisi Teknis Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bondowoso, Abu Sofyan, menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan silaturahmi ke seluruh partai politik, baik yang memiliki kursi di parlemen maupun non-parlemen, dalam rangka menyosialisasikan tahapan pemilu sekaligus menjaring masukan terkait daerah pemilihan (dapil).

“Pada posisi ini, kami di KPU Kabupaten Bondowoso melaksanakan silaturahmi ke semua partai politik, tidak hanya Partai Golkar. Agenda ini salah satunya untuk menyampaikan tahapan pemilu, termasuk program pendidikan politik berkelanjutan yang kami laksanakan setiap semester,” ujar Abu Sofyan,Selasa 21/04/2026.

Ia menjelaskan, salah satu isu yang turut dibahas dalam pertemuan tersebut adalah kajian dapil yang akan menjadi bagian dari tahapan pemilu mendatang, yang diperkirakan dimulai sekitar tahun 2027.

Menurutnya, KPU Bondowoso saat ini masih dalam tahap awal berupa diskusi dan berbagi pandangan dengan partai politik terkait relevansi dapil yang digunakan pada Pemilu 2024 lalu.

Saat ini, Bondowoso memiliki lima dapil, sesuai dengan ketentuan regulasi yang mengatur jumlah dapil minimal tiga dan maksimal 12.

“Kami melakukan sharing terhadap relevansi dapil yang ada saat ini. Apakah masih sesuai atau perlu ada perubahan, itu yang sedang kami kaji bersama,” jelasnya.

Baca Juga Berita terkait :

Golkar Bondowoso Usulkan Dapil Berbasis Kecamatan untuk Perkuat Representasi

Terkait usulan dari Partai Golkar mengenai pemekaran dapil berbasis kecamatan, Abu Sofyan menilai gagasan tersebut disampaikan secara objektif dan akademis.

Menurutnya, pemekaran dapil berpotensi meningkatkan kedekatan antara wakil rakyat dengan masyarakat serta memperluas jangkauan program pembangunan.

FB_IMG_1773966750014

“Secara akademis, usulan pemekaran dapil itu masuk. Dampaknya bisa memperkuat kedekatan wakil rakyat dengan konstituennya dan membuat program lebih tepat sasaran,” katanya.

Ia mencontohkan, pada dapil saat ini terdapat wilayah yang mencakup hingga enam kecamatan, sehingga dinilai cukup luas dan berpotensi menyulitkan optimalisasi representasi.

Meski demikian, Abu Sofyan menegaskan bahwa sebagian besar partai politik masih membutuhkan waktu untuk melakukan kajian internal sebelum menyampaikan sikap resmi mereka terkait perubahan dapil.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penataan dapil merupakan kewenangan KPU yang diatur dalam Peraturan KPU (PKPU) dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

Namun dalam pelaksanaannya, KPU tetap mengedepankan partisipasi publik.

“Kami tidak ingin sepihak. Nantinya akan ada uji publik dan tahapan lainnya. Pada akhirnya, keputusan akan mempertimbangkan masukan dari masyarakat Bondowoso,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kondisi dapil di setiap daerah dapat berbeda, sehingga kebijakan pemekaran tidak bersifat seragam.

“Setiap kabupaten bisa memiliki kebijakan berbeda sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Ada daerah yang sudah melakukan pemekaran dapil, sementara Bondowoso pada Pemilu lalu masih menggunakan lima dapil ” pungkasnya.

KPU Bondowoso berencana menyusun sejumlah rancangan dapil sebagai bahan kajian lebih lanjut, sebelum nantinya diuji publik dan diputuskan sesuai mekanisme yang berlaku.

images (15)

Golkar Bondowoso Usulkan Dapil Berbasis Kecamatan untuk Perkuat Representasi

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso – Ketua DPD Partai Golkar Bondowoso, Ady Kriesna, mengusulkan penataan daerah pemilihan (dapil) berbasis kecamatan dalam forum kunjungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) ke DPD Golkar Bondowoso,Senin 20/04/2026.

Menurut Ady, skema dapil berbasis kecamatan dinilai mampu memperkuat kedekatan antara anggota DPRD dengan konstituennya sekaligus meningkatkan kualitas representasi politik di tingkat lokal.

“Dengan dapil berbasis kecamatan, masyarakat dapat mengetahui secara jelas rekam jejak calon legislatif. Anggota DPRD juga akan lebih dekat dengan konstituen, sehingga representasi wilayah, termasuk kecamatan, dapat tergambar dalam konfigurasi parlemen,” ujarnya,Selasa 21/04/2026.

Baca juga berita terkait ;

Ini Kata Abu Sofyan Terkait Kajian Dapil untuk Pemilu Mendatang

Ia menjelaskan, Kabupaten Bondowoso memiliki 23 kecamatan yang dapat dijadikan dasar pembentukan dapil.

Dengan skema tersebut, alokasi kursi DPRD dapat dibagi secara merata, rata-rata dua kursi per kecamatan, dengan penyesuaian bagi kecamatan yang memiliki jumlah pemilih lebih sedikit.

“Untuk kecamatan dengan jumlah pemilih paling sedikit, bisa dialokasikan satu kursi. Secara keseluruhan tetap sesuai dengan total 45 kursi DPRD,” jelasnya.

Ady juga menekankan bahwa sistem ini berpotensi meningkatkan keterwakilan perempuan dalam politik.

Dengan jumlah calon legislatif yang lebih terbatas di setiap dapil, partai politik dapat mendorong komposisi yang lebih seimbang.

FB_IMG_1773966750014

“Dari dua calon per partai di setiap dapil, salah satunya bisa diwajibkan perempuan.

Dengan demikian, keterwakilan perempuan tidak hanya 30 persen, tetapi bisa mencapai 50 persen,” katanya.

Selain itu, ia menilai dapil yang lebih kecil akan membuat anggota DPRD lebih fokus dalam menyerap aspirasi masyarakat, termasuk dalam pengelolaan pokok-pokok pikiran (pokir).

“Jika wilayah dapil terlalu luas seperti saat ini, ada kecamatan yang tidak memiliki wakil. Anggota DPRD juga kerap kewalahan dalam menampung aspirasi masyarakat yang berdampak pada penyaluran pokir,” tambahnya.

Meski demikian, Ady menegaskan bahwa usulan tersebut tidak berarti mengubah sistem pemilu menjadi sistem distrik.

Ia memastikan bahwa sistem yang digunakan tetap proporsional terbuka, namun dengan jumlah dapil yang diperbanyak dan cakupan wilayah yang dipersempit.

“Ini adalah gagasan Partai Golkar agar proses demokrasi tidak sekadar menjadi rutinitas politik, tetapi lebih substansial dan mampu menghadirkan sistem yang lebih baik dalam melayani masyarakat,” pungkasnya.

Dikatakan bahwa ,selagi ada momentum perubahan UU Pemilu, UU Parpol dan UU Pemilukada tahun 2026 ini, Golkar mengusulkan dapil diperbanyak.

 

images (15)

Disparbudpora Bondowoso Fokus Revalidasi UNESCO Global Geopark 2026

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso – Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan, menegaskan kesiapan daerahnya dalam menghadapi proses revalidasi UNESCO Global Geopark (UGG) yang dijadwalkan berlangsung pada 2026.

Gede menjelaskan, proses revalidasi tidak hanya dinilai pada tahun pelaksanaan, melainkan merupakan rangkaian panjang sejak penetapan kawasan sebagai UNESCO Global Geopark.

“Revalidasi ini bukan hanya melihat kondisi saat ini, tetapi sejak awal penetapan kita sudah menjalankan berbagai rekomendasi dari asesor. Jadi prosesnya berkelanjutan,” ujarnya saat dikonfirmasi ,Senin 21/04/2026.

Menurutnya, sejumlah rekomendasi yang diberikan asesor telah menjadi perhatian perangkat daerah, terutama terkait peningkatan amenitas, visibilitas, serta aksesibilitas transportasi menuju kawasan geopark, termasuk kawasan Ijen.

Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah penyediaan transportasi umum menuju destinasi wisata unggulan. “Kami sudah menjalin kerja sama untuk menghadirkan angkutan umum seperti DAMRI menuju kawasan Ijen. Ini bagian dari tindak lanjut rekomendasi asesor,” jelasnya.

FB_IMG_1773966750014

Selain itu, pengembangan sektor edukasi juga terus dilakukan dengan memperluas pemahaman masyarakat dan pelaku wisata terhadap konsep geopark, tidak hanya di lokasi yang sebelumnya menjadi titik asesmen, tetapi juga di wilayah lain.

Gede menambahkan, pada tahun 2026 pihaknya akan lebih fokus mempersiapkan seluruh kebutuhan revalidasi, termasuk penyusunan laporan perkembangan dari setiap rekomendasi yang telah ditindaklanjuti.
“Semua progres dari rekomendasi akan kami sampaikan kepada asesor, mulai dari penataan hingga pengembangannya,” katanya.

Dalam proses ini, Bondowoso tidak berjalan sendiri. Pemerintah Kabupaten Bondowoso akan berkolaborasi dengan Kabupaten Banyuwangi serta mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Kami akan bersama-sama dengan Banyuwangi mempersiapkan revalidasi ini, dengan fasilitasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur,” pungkasnya.

Revalidasi UNESCO Global Geopark menjadi momentum penting untuk memastikan pengelolaan kawasan geopark tetap memenuhi standar internasional serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

images (15)
error: Content is protected !! silahkan di menghubungi admin jika ingin copy conten ini ... terima kasih